DELAPAN MACAM REZEKI

DELAPAN MACAM REZEKI 1. Rezeki Yang Telah Dijamin. “Tidak ada satu mahluk melatapun yang bergerak di atas bumi ini yang tidak dijamin Allah rezekinya” (QS.Hud:

Dinar For Beginner

Sesuai judulnya, yang ringan ringan saja pembahasannya, ada berapa sih jenis dinar dan dirham yang bereredar baik di Indonesia dan di luar negeri. Dinar ada

Uang Ideal = Perfect Money

Semua menginginkan memiliki uang yang ideal, ideal disini uang tersebut selain sebagai alat mengukur kekayaan juga terjaga nilainya sepanjang masa. Kita tidak akan membicarakan mengenai Dinar, Dirham, atau Fiat money seperti USD, GBP, CHF ataupun Euro, karena konsep uang ke depannya pun akan berubah seiring perkembangan jaman dengan seiring kebutuhan manusia di jaman akan datang yang tentunya berbeda dengan kebutuhan manusia di jaman sekarang.

Langsung to the point, saya tidak akan mengutip pendapat siapapun disini jikalau ada kesamaan bisa jadi kami memiliki visi yang sama mengenai apa itu uang yang Ideal.

Pertama, uang harus bersifat universal, dapat digunakan setiap orang di berbagai negara, berbagai strata masyarakat, baik itu pria atau wanita, tua atau muda, kaya atau miskin.

Kedua, jenis uang tersebut dapat diakses oleh siapapun, bukan milik kelompok tertentu yang dapat mempermainkan nilai akan uang tersebut. Uang ini tidak tersentralisasi dan terautorisasi oleh lembaga keuangan ke depannya.

Ketiga, uang tersebut dapat dibagi ke dalam unit paling kecil, misalkan hingga mikro ataupun nano, seumpamanya.Ketika kita akan membeli permen ataupun hal yang remeh temeh itu tidak akan menjadi masalah ke depannya.

Hukum Dana Talangan Ibadah Haji :: Solusi atau Masalah?

dana talangan hajiDana Talangan Haji banyak ditawarkan oleh berbagai institusi perbankan ada yang konvensional dan juga ada dari bank syariah. Jikalau itu dari bank konvensional maka tidak ragu bahwa di dalamnya ada riba, yaitu adanya keharusan membayar bunga atas pinjaman yang diberikan.

Nah bagaimana kasusnya dengan bank syariah, saya dapatkan dari berbagai sumber dana talangan haji selain membayar pokok juga diharuskan membayar ujroh yang merupakan pendapatan bagi bank (?) dan ditentukan persentasenya (?) .

Ada bentuk Hilah ( Kamuflase) di dalam akad Talangan Haji di berbagai bank syariah. Bunga disebutkan sebagai Ujroh ( Pendapatan Bank). Intinya praktek Talangan Haji ini sama saja dengan praktek meminjamkan uang dengan bunga.

Memahami Akad Riba (01)

Definisi Riba

Ditinjau dari ilmu bahasa arab, riba bermakna: tambahan, tumbuh, dan menjadi tinggi. [1]

Firman Allah Ta’ala berikut merupakan contoh nyata akan penggunaan kata riba dalam pengertian semacam ini:

وَتَرَى الْأَرْضَ هَامِدَةً فَإِذَا أَنزَلْنَا عَلَيْهَا الْمَاء اهْتَزَّتْ وَرَبَتْ وَأَنبَتَتْ مِن كُلِّ زَوْجٍ بَهِيجٍ

“Dan kamu lihat bumi ini kering, kemudian apabila Kami turunkan air di atasnya, hiduplah bumi itu dan menjadi tinggi (suburlah) dan menumbuhkan berbagai macam tumbuh-tumbuhan yang indah” (Qs. Al Hajj: 5)

Ibnu Katsir rahimahullah tatkala menafsirkan ayat ini, berkata: “Bila Allah telah menurunkan hujan ke bumi, maka bumi bergerak dengan menumbuhkan tetumbuhan dan tanah yang sebelumnya mati (gersang) menjadi hidup, lalu batangnya menjulang tinggi dari permukaan tanah. Dan dengan hujan, Allah menumbuhkan berbagai rupa dan macam buah-buahan, tanaman, tumbuh-tumbuhan dengan beraneka ragam warna, rasa, aroma, bentuk dan kegunaannya.” [2]

Adapun dalam pemahaman syari’at, maka para ulama’ berbeda-beda ungkapannya dalam mendefinisikannya, akan tetapi maksud dan maknanya tidak jauh berbeda. Diantara definisi yang saya rasa cukup mewakili berbagai definisi yang ada ialah:

عقد على عوض مخصوص غير معلوم التماثل في معيار الشرع حالة العقد أو مع تأخير في البدلين أو أحدهما.

“Suatu akad/transaksi atas barang tertentu yang ketika akad berlangsung tidak diketahui kesamaannya menurut ukuran syari’at atau dengan menunda penyerahan kedua barang yang menjadi obyek akad atau salah satunya.” [3]

Ada juga yang mendefinisikannya sebagai berikut:

الزيادة في أشياء مخصوصة.

“Penambahan pada komoditi/barang dagangan tertentu.” [4]

Hukum Riba

Tidak asing lagi bahwa riba adalah salah satu hal yang diharamkan dalam syari’at Islam. Sangat banyak dalil-dalil yang menunjukkan akan keharaman riba dan berbagai sarana terjadinya riba.

Firman Allah Ta’ala berikut adalah salah satu dalil yang nyata-nyata menegaskan akan keharaman praktek riba’:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ لاَ تَأْكُلُواْ الرِّبَا أَضْعَافًا مُّضَاعَفَةً وَاتَّقُواْ اللّهَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memakan riba dengan berlipat ganda dan bertaqwalah kamu kepada Allah supaya kamu mendapat keberuntungan.” (Qs. Ali Imran: 130)

Ibnu Katsir rahimahullah ketika menafsirkan ayat ini berkata: “Allah Ta’ala melarang hamba-hamba-Nya kaum mukminin dari praktek dan memakan riba yang senantiasa berlipat ganda. Dahulu, di zaman jahiliyyah, bila piutang telah jatuh tempo mereka berkata kepada yang berhutang: “Engkau melunasi hutangmu atau membayar riba?” Bila ia tidak melunasinya, maka pemberi hutangpun menundanya dan orang yang berhutang menambah jumlah pembayarannya. Demikianlah setiap tahun, sehingga bisa saja piutang yang sedikit menjadi berlipat ganda hingga menjadi besar jumlahnya beberapa kali lipat. Dan pada ayat ini Allah Ta’ala memerintahkan hamba-Nya untuk senantiasa bertakwa agar mereka selamat di dunia dan di akhirat.” [5]

الربا اثنان وسبعون بابا، أدناها مثل إتيان الرجل أمه. رواه الطبراني وغيره، وصححه الألباني.

“(Dosa) riba itu memiliki tujuh puluh dua pintu, yang paling ringan ialah semisal dengan (dosa) seseorang yang menzinai ibu kandungnya sendiri.” (Riwayat At Thobrany dan lainnya serta dishahihkan oleh Al Albany)

Saudaraku, lelaki jahat nan bejat model apakah yang tega menzinahi ibunya? Menurut anda, adakah manusia yang lebih keji dibanding lelaki yang tega menzinahi wanita yang telah melahirkannya?

Walau begitu keji dan kotor perbuatan lelaki itu, akan tetapi ternyata dosanya hanyalah setaraf dengan dosa riba yang paling ringan. Setelah mengetahui betapa besar dosa riba, masihkah anda menganggap bahwa dosa riba adalah remeh?

Macam-Macam Riba

Para ulama’ menyebutkan bahwa riba secara umum terbagi menjadi dua macam:

1. Riba Nasi’ah/Penundaan (Riba Jahiliyyah)

Yaitu riba (tambahan) yang terjadi akibat pembayaran yang tertunda pada akad tukar menukar dua barang yang tergolong ke dalam komoditi riba, baik satu jenis atau berlainan jenis dengan menunda penyerahan salah satu barang yang dipertukarkan atau kedua-duanya. [6]

Riba jenis ini dapat terjadi pada akad perniagaan, sebagaimana juga dapat terjadi pada akad hutang-piutang.

Contoh riba nasi’ah dalam perniagaan:
Misalnya menukarkan emas bagus/baru dengan emas lama yang sama beratnya, akan tetapi emas yang bagus hanya dapat diterimakan setelah satu bulan dari waktu transaksi dilaksanakan.

Misal lain: Bila A menukarkan uang kertas pecahan Rp 100.000,- dengan pecahan Rp. 1.000,- kepada B, akan tetapi karena B pada waktu akad penukaran hanya membawa 50 lembar uang pecahan Rp. 1.000,- maka sisanya baru dapat ia serahkan keesokan hari, perbuatan mereka berdua ini disebut riba nasi’ah.

Contoh riba nasi’ah dalam akad hutang-piutang:
Misal kasus riba dalam akad hutang piutang: Bila A berhutang kepada B uang sejumlah Rp. 1.000.000,- dengan perjanjian: A berkewajiban melunasi piutangnya ini setelah satu bulan dari waktu akad piutang. Dan ketika jatuh tempo, ternyata A belum mampu melunasinya, maka B bersedia menunda tagihannya dengan syarat A memberikan tambahan/bunga bagi piutangnya –misalnya- setiap bulan 5 % dari jumlah piutangnya. Atau ketika akad hutang-piutang dilangsungkan, salah satu dari mereka telah mensyaratkan agar A memberikan bunga/tambahan ketika telah jatuh tempo.

Al Mujahid rahimahullah berkata:

كانوا في الجاهلية يكون للرجل على الرجل الدين، فيقول: لك كذا وكذا وتؤخر عني، فيؤخر عنه

“Dahulu orang-orang jahiliyyah bila ada orang yang berhutang kepada seseorang (dan telah jatuh tempo dan belum mampu melunasinya) ia berkata: Engkau akan aku beri demikian dan demikian, dengan syarat engkau menunda tagihanmu, maka pemberi piutang-pun menunda tagihannya.” [7]

Abu Bakar Al Jashash rahimahullah berkata: “Dan gambaran riba yang dahulu dikenal dan dijalankan oleh orang-orang arab ialah: menghutangkan uang dirham atau dinar hingga tempo tertentu dengan mensyaratkan bungan/tambahan di atas jumlah uang yang terhutang sesuai kesepakatan antara kedua belah pihak, …dan gambaran transaksi riba yang biasa mereka lakukan ialah seperti yang saya sebutkan, yaitu menghutangkan uang dirham atau dinar dalam tempo waktu tertentu dengan mensyaratkan tambahan/bunga.” [8]

Inilah riba yang ada semenjak zaman jahiliyyah, bahkan telah dilakukan oleh umat manusia sejak sebelum datang Islam, sebagaimana dalam firman Allah Ta’ala berikut:

فَبِظُلْمٍ مِّنَ الَّذِينَ هَادُواْ حَرَّمْنَا عَلَيْهِمْ طَيِّبَاتٍ أُحِلَّتْ لَهُمْ وَبِصَدِّهِمْ عَن سَبِيلِ اللّهِ كَثِيراً {160} وَأَخْذِهِمُ الرِّبَا وَقَدْ نُهُواْ عَنْهُ وَأَكْلِهِمْ أَمْوَالَ النَّاسِ بِالْبَاطِلِ وَأَعْتَدْنَا لِلْكَافِرِينَ مِنْهُمْ عَذَابًا أَلِيمًا

“Maka disebabkan kezaliman orang-orang Yahudi, Kami haramkan atas mereka (memakan makanan) yang baik-baik (yang dahulunya) dihalalkan bagi mereka, dan karena mereka banyak menghalangi (manusia) dari jalan Allah. dan disebabkan mereka memakan riba, padahal sesungguhnya mereka telah dilarang daripadanya, dan karena mereka memakan harta orang dengan jalan yang batil. Kami telah menyediakan untuk orang-orang yang kafir di antara mereka itu siksa yang pedih.” (Qs. An Nisa’: 160-161)

Riba jenis inilah yang dimaksudkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dari khutbah beliau di Padang Arafah, ketika beliau menunaikan haji Wada’:

وربا الجاهلية موضوع، وأول ربا أضع ربانا ربا عباس بن عبد المطلب، فإنه موضوع كله. رواه مسلم

“Dan riba jahiliyyah dihapuskan, dan riba pertama yang aku hapuskan ialah riba kami (kabilah kami), yaitu riba Abbas bin Abdul Mutthalib, sesungguhnya ribanya dihapuskan semua.” (Riwayat Imam Muslim)

Anda telah mengetahui bahwa akad hutang-piutang termasuk salah satu akad yang bertujuan untuk menolong dan memberikan uluran tangan kepada orang yang membutuhkan bantuan, sehingga tidak   dibenarkan bagi siapapun untuk mencari keuntungan dalam bentuk apapun dari akad macam ini.

Perilaku rentenir yang mengesankan sebagai penolong, akan tetapi pada kenyataannya ia berdusta, ia tidaklah berpikir kecuali keuntungannya sendiri. Oleh karena itu azab pemakan riba di akhirat setimpal dan serupa dengan kejahatan yang telah ia lakukan di dunia.

Imam Bukhary meriwayatkan bahwa azab pemakan riba ialah: “Ia akan berenang-renang di sungai darah, sedangkan di tepi sungai ada seseorang yang di hadapannya terdapat bebatuan, setiap kali orang yang berenang dalam sungai darah hendak keluar darinya, lelaki yang berada di pinggir sungai tersebut segera melemparkan bebatuan ke mulut orang tersebut, sehingga ia terdorong kembali ke tengah sungai, dan demikian itu seterusnya.” [9]