Hukum Dana Talangan Ibadah Haji :: Solusi atau Masalah?

Dana Talangan Haji banyak ditawarkan oleh berbagai institusi perbankan ada yang konvensional dan juga ada dari bank syariah. Jikalau itu dari bank konvensional maka tidak ragu bahwa di dalamnya ada riba, yaitu adanya keharusan membayar bunga atas pinjaman yang diberikan.

Nah bagaimana kasusnya dengan bank syariah, saya dapatkan dari berbagai sumber dana talangan haji selain membayar pokok juga diharuskan membayar ujroh yang merupakan pendapatan bagi bank (?) dan ditentukan persentasenya (?) .

Ada bentuk Hilah ( Kamuflase) di dalam akad Talangan Haji di berbagai bank syariah. Bunga disebutkan sebagai Ujroh ( Pendapatan Bank). Intinya praktek Talangan Haji ini sama saja dengan praktek meminjamkan uang dengan bunga.

Di dalam islam ada dua jenis transaksi,

Pertama : Transaksi Komersial ( Mu’ awwadhat), seperti jual beli, sewa menyewa dan lainnya yang memang ditujukan untuk mengambil keuntungan.

Kedua : Transaksi Sosial – Tolong Menolong ( Tabarru’at) misalkan utang- piutang dan di dalam akad utang piutang dilarang mengambil keuntungan. Dalam kaidah fiqh muamalah dikenal setiap piutang yang mendatangkan keuntungan atau lebih adalah riba.\

Akad yang dilakukan di bank syariah dalam Talangan Haji dapat dikatakan sebagai riba karena :

  1. Akad yang dilaksanakan Akad Utang Piutang dimana bank memberikan dana talangan untuk memdapatkan kursi naik haji kemudian nasabah mencicilnya.
  2. Segala keutungan dari akad utang piutang adalah jatuhnya ke riba.

Solusi :

  1. Bagi yang mampu untuk naik haji menabunglah hingga dapat membayar kursi terlebih dahulu. Jika memang saat ini belum memiliki rezeki bersabarlah insya Allah, Allah akan memberikan jalannya.
  2. Jangan karena tergesa gesa ingin menunaikan ibadah haji namun menggunakan cara yang tidak benar yaitu menggunakan dana Talangan Haji.
  3. Jikalaupun ingin meminjam sebaiknya meminjamlah kepada rekan/teman/keluarga yang mau meminjamkan tanpa riba dengan catatatan kita harus secepatnya melunasi sebagai bagian dari etika berutang kepada orang lain.

Persepsi Keliru Mengenai Dinar dan Dirham (III) Bolehkan Kita Mencicil Dinar dan Emas Batangan?

Pada saat ini kita sering melihat begitu banyak intitusi perbankan syariah atau lembaga lembaga keuangan syariah lainnya menawarkan produk cicil emas. Melihat perkembangan emas yang selalu naik dari tahun ke tahun menyebabkan bisnis ini sangat menggiurkan sekali. Disatu sisi demand yg begitu tinggi yaitu orang orang yg tidak memiliki kecukupan dana tapi ingin memiliki emas atau dinar pada saat itu juga. Di sisi lain ada orang yang jeli melihat ini sebagai peluang dalam meraih keuntungan dengan memberikan fasilitas kredit kepemilikan emas dan dinar.

Sepintas tidak ada masalah dengan jual beli secara kredit, tapi dalam Islam ada kaidah kaidah yang harus diketahui bahwasanya jual beli barang yg termasuk komoditas yg telah ditetapkan dalam hadits dan ulama ulama Mazhab memiliki aturan dimana jual belinya disyaratkan secara khusus.

Telah bersabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam : “Emas ditukar dengan emas, perak ditukar dengan perak, gandum ditukar dengan gandum, sya’iir (sejenis gandum) ditukar dengan sya’iir, kurma ditukar dengan kurma, dan garam ditukar dengan garam; dengan sepadan/seukuran dan harus secara kontan. Apabila komoditasnya berlainan, maka juallah sekehendak kalian asalkan secara kontan juga” [Shahih Muslim no. 1587].

Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Gandum ditukar dengan gandum adalah riba kecuali secara kontan, sya’iir ditukar dengan sya’iir/jewawut adalah riba kecuali secara kontan, dan kurma ditukar dengan krma adalah riba kecuali secara kontan” [Shahih Al-Bukhaariy, no. 2170].

Ya, adanya barang barang ribawi dimana persyaratannya adalah secara umum harus dengan kontan dan jumlahnya harus sepadan. Satu kilogram emas haruslah ditukar dengan satu kilogram emas, satu kilogram kurma dengan satu kilogram kurma. Penambahan nilai atau jumlah takaran dan adanya penundaan waktu maka akan terjerumus kepada riba Fadhl ( riba karena penambahan takaran) atau riba Nashiah ( riba karena penundaan waktu).

Apa saja barang yg termasuk ketegori barang barang ribawi ?, saya ajak pembaca untuk memahami 20 Kaidah Memahami Riba (Pendapat dari berbagai Mazhab mengenai kategori barang barang ribawi)

Murabahah emas diperbolehkan oleh beberapa pakar syariah di Indonesia karena merujuk pada fatwa DSN- MUI yang memperbolehkannya dengan berbagai pendapat , yaitu :

  1. Bahwa emas pada saat ini bukanlah barang ribawi dengan illat sebagai alat tukar ( tsaman) tapi sdh berupa komoditas. Sehingga pertukaran antara barang yg bukan termasuk barang ribawi dengan barang yang termasuk ribawi adalah boleh dengan tertunda.

  2. Mengikuti pendapat Ibnu Taimiyah yg memperbolehkan transaksi jual beli fulus dan emas perhiasan dengan pembayaran secara tertunda.

Bantahan terhadap fatwa DSN adalah sebagai berikut :

  1. Emas walaupun pada saat ini bukanlah sebagai alat tukar/ mata uang tapi sejatinya emas dan dinar adalah barang yang memiliki kekuatan membeli ( purchasing power) . Emas adalah universal trandabel goods artinya dibanding dengan uang kertas rupiah, maka emas dimanapun masih bisa diterima dengan baik dibanding rupiah. Ketika anda berada di negara bekas Sovyet, anda membeli barang sedangkan di tangan anda hanya ada rupiah dan emas, maka dipastikan penjual akan memilih menerima emas dibanding rupiah.

  2. Emas diciptakan bukan karena dimanfaatkan wujudnya. Anda membeli beras maka anda akan membeli beras tersebut untuk anda manfaatkan sebagai makanan, begitu juga kurma, garam, anggur. Berbeda dengan emas dan perak yang diciptakan sebagai alat ukur kekayaan dan sebagai alat tukar karena keunikan yang dimilikinya.

  3. Pendapat Ibnu Taimiyah tidak bisa dijadikan acuan dalam pengambilan hukum atas bolehnya murabahah emas, karena apa yg difatwakan beliau adalah pada konteks membeli perhiasan dari emas. Sedangkan emas batangan dan dinar disini bukanlah perhiasan kecuali ada di antara anda yg menggunakan dinar dan emas batangan sebagai perhiasan baik berupa cincin, kalung dan anting. Fatwa Syaikh Ibnu Taimiyah ini yang sering disalahgunakan sebagai pakar syariah sebagai alasan diperbolehkan murabahah/ kredit emas dan penukaran barang ribawi yg tidak setara. Konsekuensinya menuduh Syaikh Ibnu Taimiyah memperbolehkan adanya riba fadhl. Suatu tuduhan yg serampangan ini saya temukan pada twitter penulis buku ekonomi syariah.

Ulama ulama telah berijtihad tentunya dalam mengeluarkan fatwa, dengan segala upaya pendalaman nash baik Al-Quran- Al-Hadits dan Qiyas, serta pemahaman pemahaman ulama ulama mazhab dari Ulama Hanafiyah, Malikiyah, Syafi’iyah dan Hanabilah. Namun bila ternyata ada hujjah atau fatwa yg lebih kuat dari segi penggalian nash dan argumen argumen, maka sikap kita adalah kembali kepada fatwa yang lebih kuat dan tetap bersikap adil terhadap sebagian orang yang berpemahaman bolehnya murabahah emas yaitu cukup kita memberikan argumen tanpa memaksakan kehendak apalagi sampai mencela.

 

Persepsi Keliru Mengenai Dinar dan Dirham ( II ) Dinar dan Dirham Haram untuk Diperjualbelikan

 

Sebagian orang yang saya temui berkata jual beli dinar dan dirham tdk ada bedanya dengan jual beli mata uang dan saya jawab bahwa memang sama. Kemudian orang tersebut bertanya kembali bahwa bukankan jual beli mata uang adalah haram hukumnya, maka saya menjawabnya bahwa hal ini banyak dipahami tidak dengan semestinya.

 

Di antara ulama yg saya temui berkata bahwa dinar dan dirham serta mata uang yg digunakan saat ini tak berubah fungsinya sebagai alat pengukur kekayaan. Dulu di jaman Rasulullah Sholallohualaihiwasallam , sahabat sahabat beliau radialllahanhu memiliki kekayaan dan kekayaan mereka diukur dengan berapa banyak dinar, dirham, ternak yg mereka miliki.

 

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah menjelaskan,

(Mata uang) dinar dan dirham asalnya bukan untuk dimanfaatkan zatnya. Tujuannya adalah sebagai alat ukur (untuk mengetahui nilai suatu barang). Dirham dan dinar bukan bertujuan untuk dimanfaatkan zatnya, keduanya hanyalah sebagai media untuk melakukan transaksi. Oleh karena itu fungsi mata uang tersebut hanyalah sebagai alat tukar, berbeda halnya dengan komoditi lainnya yang dimanfaatkan zatnya.(Majmu’ Al Fatawa, 19/251-252)

Imam Al Ghozali rahimahullah menjelaskan,

Orang yang melakukan transaksi riba dengan (mata uang) dinar dan dirham, sungguh ia telah kufur nikmat dan telah berbuat kezholiman. Karena (mata uang) dinar dan dirham diciptakan hanya sebagai media dan bukan sebagai tujuan. Maka bila mata uang tersebut diperdagangkan, maka ia akhirnya akan menjadi komoditi dan tujuan. Hal ini bertentangan dengan tujuan semula uang diciptakan. Oleh karena itu, tidak dibolehkan menjual (mata uang) dirham dan dengan dirham yang berbeda nominalnya dan tidak dibolehkan menjualnya secara berjangka. Maksud dari hal ini adalah agar mencegah orang-orang yang ingin menjadikan mata uang tersebut sebagai komoditi. Syarat ini jelas mendesak para pendagang untuk tidak meraup keuntungan. (Ihya’ ‘Ulumuddin, 4/88)

 

Teringat perkataan ulama tersebut bahwa sejatinya dinar-dirham- uang kertas sekarang adalah alat ukur kekayaan, sehingga hal yg aneh kok bisa alat ukur ini diperjual belikan. Oleh karena itu Islam membatasi jual beli mata uang melalui suatu ketentuan yg dinamakan akad sharf. Yang perlu diperhatikan bahwa dari ulasan di atas tdk ada pengharaman, namun pembatasan, krn bila terjadi pengharaman makan ulama pun telah melihat mafsadatnya lebih tinggi dibanding maslahatnya. Hal ini pun berlaku bila kita menghukumi uang kertas adalah riba atau haram. Dan ulama pun membatasi karena bila tidak dibatasi maka mafsadatnya lebih banyak dibanding maslahatnya. Ingat ketika jual beli FOREX ONLINE dengan cara leverage , bagi yang mengenalnya inilah cara Wall Street menguasai dunia dan jual beli dengan metode ini lebih banyak kerusakannya seperti terjerumus kepada spekulasi. Insya Allah akan dibahas di artikel selanjutnya.

 

 

Ash-sharf secara bahasa berarti memindah dan mengembalikan. Sedangkan secara istilah fuqaha, definisi ash-sharf adalah jual beli alat bayar (emas, perak dan mata uang) dengan alat bayar sejenis atau beda jenis.

 

 

Emas dijual dengan emas, perak dijual dengan perak, gandum dijual dengan gandum, sya’ir (salah satu jenis gandum)  dijual dengan sya’ir, korma dijual dengan korma, dan garam dijual dengan garam, (takaran/timbangannya) harus sama dan kontan. Barang siapa yang menambah atau meminta tambahan maka ia telah berbuat riba, pemberi dan penerima dalam hal ini sama.” (H.R Muslim)

 

 

Janganlah engkau menjual emas ditukar dengan emas melainkan sama dengan sama, dan janganlah engkau melebihkan salah satunya dibanding lainnya. Janganlah engkau menjual perak ditukar dengan perak melainkan sama dengan sama, dan janganlah engkau melebihkan salah satunya dibanding lainnya. Dan janganlah engkau menjual salah satunya diserahkan secara kontan ditukar dengan lainnya yang tidak diserahkan secara kontan.” (H.R. Al Bukhary dan Muslim).

 

Jadi ada beberapa hal yg penting dalam jual beli dinar -dirham dan mata uang kertas yakni :

 

  1. Jika sejenis baranganya, dinar dengan dinar atau rupiah dengan rupiah maka jumlahnya harus sama, misal 1 dinar dengan 1 dinar, 1000 rupiah dengan 1000 rupiah dan serah terima secara tunai dan hand to hand.

  2. Jika berlainan jenis tp Illatnya sama yaitu sebagai alat pembayaran atau alat tukar ( disini dinar tetap illatnya sebagai alat tukar krn memiliki kekuatan untuk membeli walau saat ini tdk diakui sebagai alat tukar yang sah) , maka jumlahnya sesuai kesepakatan misal 1 Dinar seharga 2,5 juta dilakukan secara tunai dan hand to hand.

  3. Untuk persyaratan hand to hand, telah dibahas bahwa akad sharf akan sempurna bila pihak pertama telah memberi dan pihak kedua telah menerima, disini ada letak perbedaan apakah menyimpan dalam suatu sistem elektronik misalnya di sistem m-dinar atau perbankan saat ini apakah tdk sesuai ? Saya condong kepada bahwa ketika jaman berubah dan kepesatan teknologi sangat cepat , dimana orang transaksi di Amerika bisa membeli emas atau perak di Eropa, maka sistem penyimpanan adalah suatu keniscayaan asalkan pembeli atau pemilik barang memiliki akses kontrol terhadap barang tersebut.

  4. Saya sepakat bahwa yang namanya dinar-dirham atau emas batangan maka jangan sampai diperjualbelikan scr kredit, krn ini spt kita mengkreditkan uang kita. Seaman amanya kita membeli dinar-dirham atau emas batangan dengan cara tunai.

 

 

Persepsi Keliru Mengenai Dinar dan Dirham ( I ) Membantah Keharaman Uang Kertas

 

Saya sering berdialog dengan penggiat dinar-dirham yg menyatakan uang kertas adalah haram karena riba yg terkandung di dalamnya. Mereka mengatakan uang kertas riba karena dianalogikan sebagai kertas utang /piutang yg haram untuk diperjualbelikan atau mereka mengatakan bahwa uang kertas riba fadl karena uang kertas tidak ada nilai intrinsiknya. Jika kita membeli sepotong apel dengan uang kertas maka itu riba, krn tdk setara. Sebuah apel seharga misalkan 2000 ribu rupiah ditukar dengan uang kertas nominal 2000 rupiah tentu tdk adil karena sebenarnya uang kertas itu nilainya tidak setara dengan 2000 rupiah melainkan senilai selembar kertas yg dicetak .

 

Konspirasi kejahatan perbankan internasional seakan menjadi pembenaran akan keharaman uang kertas. Saya banyak membaca buku buku konspirasi internasional bagaimana uang kertas dimanipulasi sedemikian rupa sehingga uang kertas adalah akar dari segala kejahatan di dunia ( root of evil ). Selintas orang awam dan saya pada mulanya sepakat bahwa uang kertas itu sebaiknya dihukumi haram saja karena buruknya sejarah uang kertas. Namun Islam bukan agama yg hanya mengikuti semangat Islam hanya dengan ghiroh semu, Islam adalah agama yg diturunkan sempurna sesuai dengan perkembangan jaman. Islam bukan diukur dr logika semata. Islam berdasarkan wahyu yaitu dalil berdasarkan Al-Qur’an dan Al-Hadits. Islam mempertimbangkan kebaikan dan keburukan, walau kita melakukan sesuatu yg pada awalnya baik namun efek yg ditimbulkan ternyata jauh lebih besar, maka dalam Islam jangan lakukan hal tersebut.

 

Seandainya uang kertas dihukumi haram maka akan menimbulkan berbagai konsekuensi logis yaitu semua transaksi yang dilakukan oleh umat Islam adalah tidak sah dan tidak halal. Tp ini pun akan menjadi bumerang bagi mereka penggiat dinar dan dirham sampai saat ini. Landasan pengharaman uang kertas oleh mereka tidak dilandasi oleh dalil yg kuat, mencomot berbagai hadits sabagai pembenaran namun pada akhirnya menjadi bumerang bagi mereka.

 

Saya akan kemukakan inkosistensi mereka berdasarkan dialog dengan mereka :

  1. Saya pernah mengatakan bahwa dalam fiqh muamalah dikenal kaidah semua hukum yg berkaitan dengan muamalah adalah mubah/boleh, kecuali ada dalil pelarangannya. Ketika sy tanyakan manakah dalil pelarangan penggunaan mata uang selain dinar dan dirham , maka mereka tidak dapat menjawab , padahal di jaman Rasul telah ada dinar dan dirham serta pada jaman Rasul pun ada riba.

  2. Saya pernah menanyakan kepada mereka apakah perihal dinar dan dirham adalah perkara ushul atau furu ? Mereka menjawab ini adalah perkara ushul, ketika sy tanyakan mana dalilnya karena perkara ushul adalah perkara yg telah jelas penunjukkan dalilnya. Lagi lagi mereka diam, salah satu sikap gegabah dengan menjawab sesuatu yg tidak ada ilmunya.

  3. Mereka tidak mau menyebutkan penukaran rupiah ke dinar dan dirham mereka sebagai jual beli tp mereka kategorikan sebagai akad sharf. Sudah diketahui bahwa akad sharf adalah akad jual beli. Asumsi mereka akad jual beli adalah akad mengambil untung dan rugi, padahal dalam akad jual beli penukaran barang atau barter bisa dikatakan akad jual beli.

  4. Mereka tidak menerima penukaran perak atau barang bukan uang kertas ke dinar dan dirham. Padahal jika ada dua barang yg satu baik dan buruk maka yg diambil adalah yg baik, perak murni adalah lebih baik dibanding dengan uang kertas jika sejalan dengan pemikiran mereka, krn itu menerima perak murni, kurma, gandum adalah lebih baik daripada menerima uang kertas. Ini salah satu inkosistensi mereka.

  5. Mereka mengambil hadist mengenai Khalifah Umar yg hendak menjadikan kulit unta sebagai mata uang sebagai landasan diharamkannya uang kertas padahal ketika dibaca hadist tersebut pelarangan oleh sahabat dikarenakan ketakutan akan semakin langkanya unta yang akan diambil kulitnya sebagai mata uang. Sejatinya pelarangan itu ada jika sahabat mengetahui bahwa Rasul melarang penggunaan kulit unta sebagai mata uang dan Khalifah Umar , kepada beliau belum sampai hukum tersebut. Sedang yg terjadi Rasul tidak melarang.

 

Hendaknya dipahami bahwa uang kertas saat ini tidaklah riba namun yang terjadi saat ini adalah riba pada sistemnya. Mengapa ?

 

  1. Di jaman Rasul digunakan adalah dinar dan dirham dan pada saat itu pun ada riba, tp tdk ada hadist pun yg menyatakan bahwa selain dinar dan dirham adalah riba.

  2. Dinar dan dirham pun nilainya berubah walau memang pada saat ini dinar dan dirham jika dinilai dengan seekor kambing nilainya tetap sama. Sejarah membuktikan bahwa ada suatu saat 5 dinar hanya cukup membeli seekor anjing ketika terjadi bencana kekeringan . Sejarah menjelaskan bahwa dinar dan dirham pun dipengaruhi oleh kondisi perekonomian spt suplai barang dan jasa, adanya bencana, adanya penyelundupan dan pemalsuan.

  3. Jika dinar dan dirham digunakan sebagai mata uang namun sistemnya masih sistem ribawi maka itu tdk akan menyelesaikan masalah umat.

  4. Sejarah menyebutkan presiden Amerika Abraham Lincoln berhasil membuat sistem mata uang dengan mata uang kertas yg dikenal dengan greenbacks tanpa bunga membawa Lincoln menjadi satu satunya presiden Amerika tanpa utang. Kerusakan di muka bumi ini karena riba pada sistem keuangan global, keserakahan segelintir umat, dan akad akad jual beli yg zalim.

 

 

Jadi bagaimana sikap kita terhadap dinar dan dirham :

 

  1. Dinar dan dirham adalah sarana bukan tujuan, artinya gunakanlah dinar dan dirham sebagaimana mestinya jika ingin digunakan sebagai investasi maka investasikan dengan bijak, jangan gunakan sebagai alat spekulasi, jika digunakan sebagai proteksi nilai maka gunakanlah sebagai proteksi nilai , jangan lupa keluarkan zakatnya bila sampai nishab, jika digunakan sebagai alat tukar/ barter maka gunakanlah dengan mengikuti akad akad yg disyariatkan.

  2. Dinar dan dirham dapat digunakan sebagai mata uang yang adil selama sistemnya pun adil tanpa riba, jika dibandingkan dengan uang kertas maka uang dinar lebih baik karena keunikan yg dimiliki pada emas dalam dinar yg sulit untuk dimanipulasi, apalagi kepemilikan emas dunia 80 % dimiliki oleh pengguna retail, selebihnya industri dan bank sentral.

  3. Dinar dan dirham digunakan untuk perencanaan keuangan masa depan, dibandingkan dengan investasi fiat money based, dengan dinar dan dirham perencanaan keuangan anda lebih terproteksi.

  4. Dinar dan dirham digunakan sebagai pengganti tabungan atau investasi fiat money based jangka panjang, dan jangan sampai dinar dirham digunakan untuk kegiatan produktif karena saat ini kegiatan produktif seperti jual beli perdagangan menggunakan uang kertas. Tidak terbayang bila anda memiliki uang yg seharusnya ditujukan untuk kegiatan jual beli tp anda putarkan ke dinar dan dirham kecuali anda melakukan jual beli dinar dan dirham.

  5. Bijak dalam memahami dinar dan dirham, dinar bukan solusi membuat anda menjadi lebih kaya, karena sebaiknya investasi adalah investasi di sektor ril, krn memang ekonomi Islam tumbuh melalui sektor ril , di samping itu akan semakin banyaknya keberkahan bila kita berdagang atau berwirausaha.