DINAR SUBSIDI DAN DINAR PREMIUM SERTA FIRST TRAVEL

 

Adakah kaitan First Travel dengan Dinar? Ada banget, mungkin kita semua belum paham, tapi saya yang sering memperhatikan harga dinar paham mengenai harga dinar.

Harga Dinar Subsidi sama halnya Travel Umroh subsidi yang dipromosikan First Travel adalah mensubsidi harga ril dinar supaya tetap rendah ini kebalikan dengan dinar premium dimana dinar semakin mahal karena terjadi demand fisik meninggi sehingga suply fisik memerlukan elemen biaya cetak, pajak, dan lain lain. Dinar premium jika ditambah biaya cetak sebelum pajak disparsitasnya 250 ribu, misal harga emas murni 500 ribu, harga dinar dengan cetakan ( 60-90 ribu saat itu) sekitar 2 jutaan, maka harga jual 2,25 jutaan.

Nah gimana ceritanya ada dinar subsidi? kita pernah mendapatkan dinar desain khusus dr antam kan? Harga cetak dinar khusus itu 250.000 / keping karena harga costum, bila menggunakan desain default ( bawaan logam mulia) maka harga cetak menjadi umum. Cuma anda pikirkan mengapa harganya sama dengan dinar yg lain? Tentu ada subsidi, subsidi dari mana? Wallahualam.

Kedua, anda pernahkah melihat atau berhitung harga jual dinar di salah satu provider sama dengan harga buyback ANTAM? Mengapa itu bisa terjadi? Bisa saja jika banyak yang jual dan likuiditas dalam bentuk emas batangan. Even banyak buyback anda tetap untung karena back up anda emas batangan, apalagi di pool account tertera dinar rilnya sih emas batangan. Mengapa emas batangan 24 K? Lebih LIKUID

Terus gimana harga Dinar skrg, jika ditelaah dari harga jual, maka saat ini tidak dalam dinar premium atau subsidi, artinya masih mengandalkan dari perputaran dinar yang ada, tidak ada outstanding pencetakan dinar baru. Jika ada maka siap siap dinar naik dengan berbagai pajak, karena emas batangan saja sdh dibebankan pajak. Persentase pajak bagi PKP dan non PKP berbeda persentase.

Disclaimer spt biasa . ini opini saya bisa salah dan tidak dalam mengencourage pembaca menyetujui, jika ada sanggahan silahkan diajukan.

Yang Baru Ngeh…..Penting untuk Pencerahan

Saya sdh lama berkecimpung di dunia dinar dan walhamdulillah sudah tidak berafiliasi dengan provider dinar satu pun. Masih membekas di ingatan saya bahwasanya dulu saya sering membela penggunaan dinar dan dirham, tapi sekarang justru prihatin dengan apa yang nampak terjadi ( jadi saya ikut bersalah, hiks ) . Apa saja itu? Eta terangkanlah 🙂

MISAL…..

– Jual beli dinar seringkali meremehkan akad jual beli tunai, biasanya tertunda , ada yang beralasan yang penting niat. Padahal Islam memberikan batasan tentunya ada kebaikan di dalamnya. Penggiat dinar malah ada yang berkata : ” Kalau jual gak bisa online, gimana mau tersebar” besok besoknya ketika dinar lesuh dia berkata : ” Susah jual dinar, dilibas emas batangan, mana ada butik ANTAM tiap kota”. Mereka lupa bahwa Zuhud adalah meninggalkan yang samar.

– Menjual dinar yang belum ada wujudnya, dulu di tahun 2012 banyak order dinar, dan salah satu penggiat dinar terus menerima pesanan dalam bentuk akun pool walaupun realnya masih emas batangan, saya sampai skrg pun berasumsi jika akun pool itu isinya bukan dinar semua tapi ada emas batangan. Mengapa emas batangan? LEBIH LIKUID jawabannya.. jadi sebenarnya yg terlihat spt jual beli dinar yang realnya sih perputaran uang atau emas batangan dan dinarnya di awang awang.

Continue reading “Yang Baru Ngeh…..Penting untuk Pencerahan”

Ketika Dinar dan Dirham Harganya ( Baca : Buyback) Bergantung Kuitansi ????

Kemarin kemarin ada yg meminta kuitansi untuk pembelian dirham yang tidak saya penuhi karena alasannya untuk buyback harus ada kuitansi, nah disini tentunya merugikan pembeli karena dinar dan dirham jika ada apa apa harus pakai kuitansi spt dibuyback.

Padahal kalau mau jujur, dirham khususnya khamsa yg diterima adalah kemasan antam yang ada tulisan LBMA, dan informasi ini pun tidak banyak diketahui pengguna dinar dan dirham.

Padahal kalau mau jujur pun gak perlu pakai kuitansi karena pernah saya ulas di artikel lain bagaimana mereka penggiat dinar mensosialisasikan dinar kepada agennya spy jual beli harus divalidasi dengan kuitansi sedangkan pengalaman saya ada yg saya sarankan jual langsung ke pusat dan itu diterima tanpa ada kuitansi dan itu pun tidak beli dari saya.

Memang dinar telah kehilangan universalitasnya walaupun dibumbui wewangian atas nama Islam seperti sejarah Dinar dalam Islam tapi pada prakteknya malah menjadi produk terbatas, mau dijual ke sesama agen saja harus ada kuitansi, harus ada jaminan buyback, padahal perdagangan emas batangan gk ada spt ini sehingga secara alamiah jual beli pun berjalan atas dasar suply dan demand.

Gak ada cerita susah jual emas batangan karena memang tidak dibuat pembatasan sedangan di dinar kita banyak mendapatkan pembatasan. Salah ? Gak juga cuma ke depannya akan susah bersaing kecuali market yg memang fanatik terhadap dinar karena keterkaitan dengan Islam, walaupun dalam Islam tidak ada penjabaran yg memuliakan masalah dunia apalagi masalah DINAR.

Yang sdh punya dinar gimana? Yah simpan saja , karena apapun bentuknya emas batangan, perhiasan, dinar adalah tabungan untuk jangka panjang. Kalau cuma sekedar dapat selisih investasi yah baiknya dicari instrumen lainnya.

Pajak Pajak Baru yang Dibebankan kepada Pembeli Emas

Ini obrolan saya dengan salah satu pedagang emas di jakarta, tentang adanya punggutan pajak pada emas batangan. Dalam kasus disini memang tidak dibebankan PPN ( biasanya 10 % ) dari harga jual.

Jumlah punggutan pajaknya mengacu pada :

1. PPH 22 0.9% atau 0.45% bagi customer yang memiliki npwp

2 . Nanti bukti potong PPH 22 bisa diminta customer untuk motong PPH 25 hanya berlaku kepada pembeli yang memiliki PKP bagi yang bukan PKP , bukti potong PPH 22 tidak bisa mengurangi PPH 25

Sepertinya terjadi juga pada dinar, karena penjual penjual dinar merupakan PKP setidaknya punggutan ini bakal dibebankan 0.9 % kepada pembeli.

Dinar sebenarnya kena PPN 10% , jika anda membeli ke antam akan dikenai PPN 10 % untuk pembelian dinar, karena dinar itu 22 K masih dianggap perhiasan.

Sedangkan emas batangan betul tidak ada PPN namun dikenai punggutan pajak PPH 22.

Semoga berguna informasinya