Mas Dino dan Ke’WARA’annya

Saya belum minta izin ke beliau tapi kalaupun izin sepertinya tidak diizinkan, karena beliau bukan tipe orang yang suka pujian, tp saya gak bisa menahan diri untuk memposting cerita ini :D. Maafkan saya.

Jadi awalnya di grup Pemasar Dinar kurang lebih ada dialog ( kurang lebih, sy cuma ingat intinya saja)seperti ini:

Mas Dino : ” Saya dikritik pembeli dinar mengapa jual belinya tidak hand to hand, karena jual beli dinar itu harus saat itu juga tunai dan tanpa ada penundaan walaupun itu itu hanya satu hari atau dalam hitungan jam

Kemudian Mas Dino memutuskan kepada kliennya untuk jual beli dengan syarat hand to hand, misal kirim dinar kemudian bayar saat itu, beliau tidak mau terima uang kemudian dinar dikirim, begitu juga bila ada buyback.

Saya kagum dengan ke’waraan’ beliau , dan sesuai dengan janji Allah siapa yang meninggalkan perkara yang Allah benci maka Allah akan ganti dengan yang lebih baik. Sebagai catatan Wara adalah menghindari perkara syubhat. Sebenarnya masalah hand to hand sudah saklek ulama ulama kebanyakan mempersyaratkan spt itu , bukan perkara syubhat.

Ini berbeda dengan ucapan sebagian pengedar dinar :

Yang penting niatnya gak riba, bayar sekarang kirim besok gpp

Yang penting dinar tersebar, bisa dibayangkan ada syarat itu dinar akan terhambat penyebarannya

Akad majlisnya kan pas lagi online itu, itu sdh deal jadi transaksi

Mas Dino bukan ulama fiqh muamalah tapi beliau Wara, lebih wara dari dedengkot Penggiat Dinar di Indonesia. Miris ? Ya tapi fakta, seperti saya tulis di artikel mereka sedikit sekali mensosialisasikan Fiqh Muamalah. Jadi jika ada diskusi tentang fiqh muamalah jawabannya gak jauh dari rasio dan rasanya. Yah agama kalau ditimbang dari rasio dan rasa akhirnya terjerumus kepada penuhanan akal. Banyak pembela islam itu modalnya semangat, jauh dari ilmu maka yah gak jauh jauh nanti terjerumus juga ke perkaran batil.

Bagaimana dengan saya sendiri? Saya mulai membiasakan untuk transaksi hand to hand. Gak ngoyo harus laku atau gimana. Belajar dr Mas Dino yang dr segi umur beliau lebih muda dari saya, tapi begitu suatu kebenaran diungkapkan, maka cuma satu kata yang terlontar Sami’na Wa Athona.

Semoga kita bisa seperti Mas Dino,bukan cuma mengejar keuntungan tapi juga keberkahan.

Semoga Allah lindungi Mas Dino dan kita semua. Aamiin

Catatan Kaki : Apakah akad jual beli emas hand to hand perkara khilafiyah? Saya pelajari tentang barang barang ribawi dr berbagai mazhab seperti itu perlakuannya, dinar dan uang kertas adalah barang ribawi karena sebagai alat tukar sehingga pertukarannya harus tunai dan hand to hand.

Receive Updates

No spam guarantee.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *