Yang Tidak Diajarkan Kebanyakan Penggiat Dinar….( Fiqh Muamalah )

Seandainya Dinar Seperti Bitcoin
December 29, 2016
Mengapa Harga Khamsa itu Tidak Harus 5 x Harga Dirham?
December 31, 2016

Yang Tidak Diajarkan Kebanyakan Penggiat Dinar….( Fiqh Muamalah )

Pernahkah kita mendengar perintah berilmu sebelum ke pasar? Umar bin Khattab Radhiallahu’anhu berkata :

لَا يَتَّجِرْ فِي سُوقِنَا إلَّا مَنْ فَقِهَ أَكْلَ الرِّبَا

Janganlah seseorang berdagang di pasar kami sampai dia paham betul mengenai seluk beluk riba.”

atau perkataan Ali bin Abi Thalib Radhiallahu’anhu berkata :

مَنْ اتَّجَرَ قَبْلَ أَنْ يَتَفَقَّهَ ارْتَطَمَ فِي الرِّبَا ثُمَّ ارْتَطَمَ ثُمَّ ارْتَطَمَ

Barangsiapa yang berdagang namun belum memahami ilmu agama, maka dia pasti akan terjerumus dalam riba, kemudian dia akan terjerumus ke dalamnya dan terus menerus terjerumus.

Mereka ( penggiat dinar) jarang sekali memberikan edukasi fiqh muamalah yang komprehensif, kecuali yang berkaitan dengan pemahaman riba yang berkaitan dengan uang kertas ( catatan: apakah ada riba di uang kertas? bisa cek di artikel sebelumnya) selebihnya jika berkaitan dengan riba riba yang ada 73 jenis pintunya, mereka terkadang ambigu, mengatakan perang kepada riba tapi sistem mereka pun mengandung syubhat padahal sebaik baiknya orang yang berwara’ adalah meninggalkan hal yang meragukan bukan mencari pendalilan yang setuju dengan pendapat mereka.

Contoh :
– Sering kita transaksi dinar dengan tidak tunai , beli sekarang kirim tertunda ( adanya riba nasiah), alasan mereka bahwa jika tidak begitu maka dinar tidak akan tersebar secara baik, maka jawaban yg tepat adalah lebih urgen mana masyarakat paham dinar atau masyarakat yang paham dengan akad akad yang dibolehkan dan dilarang dalam Islam?

– Transaksi dinar dengan akad seperti akad pesanan ( istishna) , ini pernah terjadi pada saat dinar sedang banyak permintaan dan pihak penggiat dinar menerapkan dinar dalam bentuk digital yang ternyata back upnya berupa emas batangan, jikapun bila ingin diambil maka yg diambil saat itu juga hanya emas batangan, sedangkan dinar harus dicetak dulu. Jika berhati hati maka sebutkan saja stok habis menunggu dinar tercetak sudah tersedia. Akad tersebut seperti akad istishna ( akad pesan). Jika Akad tersebut ingin syar’i maka harusnya pembeli membeli emas batangan kemudian membayar biaya cetak dinar, dan pembeli pada saatnya akan mendapatkan dinar.

– Fulan ingin meminjam uang ke mereka ( penggiat Dinar terkenal di Indonesia) tapi ditolak karena harus menggunakan jaminan Dinar dan salah satu kalimat yang agak mengherankan adalah menganjurkan untuk meminjam ke Bank, dan ini fakta yang benar terjadi. Jika berhati hati sebaiknya sarannya bukan seperti itu.

– Salah satu penggiat Dinar terkenal di Indonesia membuat program investasi dengan imbal hasil ( persentase ) terhadap nilai investasi bukan terhadap profit atau rugi ,yang ditelaah ini bentuk riba juga, ( catatan ketika kami konsultasi dengan Ust Erwandi, maka untung mudhorobah dihitung persentase terhadap profit bukan pokok) dan lebih anehnya programnya dalam bentuk rupiah, ini salah satu keheranan karena beliau gigih sosialisasi dinar bahwa dinar dapat diterapkan produktif di sektor ril, riba harus diperangi, pada kenyataan beliau pun tidak concern mengenai apa itu riba, apa itu fiqh muamalah, apa itu transaski gharar, maisir dan zalim? Ini bentuk ketidaktahuan atau ada mencari pembenaran dg pendapat ulama lainnya meskipun lemah? Wallahualam

Walhasil perkembangan dinar tidak paralel dengan semangat memberantas riba dan terlalu fokus pada dinar, padahal di dalam dinar pun ada riba jika dilakukan dengan akad tertentu. Sedangkan pemahaman atau ilmu tentang fiqh muamalah lebih urgen dibandingkan dengan pemahaman tentang dinar jika merujuk pada ucapan ucapan khulafaur rasyidin di atas.

Kami menulis bukan karena menjadi orang yang benar benar terlepas dari riba, karena sama sama berusaha keluar dari riba walau tidak bisa secara langsung saat ini juga. Semoga Allah mudahkan dan untuk pembaca pun bukan berarti dinar itu sesuatu yang tidak baik karena sikap penggiatnya tapi dinar hanyalah sarana, hanyalah alat menuju suatu tujuan. Keprihatinan kepada mereka penggiat Dinar terutama pemimpinnya adalah hal yang wajar karena mereka pionir anti riba di negeri ini. idealnya merekalah sangat paham terhadap riba dan pintu pintunya.

Terakhir, Dinar dan Dirham yang diperoleh dengan cara yang baik dan digunakan dengan cara yang baik maka akan bernilai ibadah di sisi Allah begitu juga rupiah yang diperoleh dengan cara yang baik dan digunakan dengan cara yang baik maka akan menjadi nilai ibadah di sisi Allah.

Receive Updates

No spam guarantee.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *