Berbagai Kesalahan Mengenai Persepsi Investasi Emas

 

Pengalaman saya dalam memantau perilaku konsumen investasi emas, maka saya temukan berbagai kesalahan persepsi mengenai investasi emas, yuk kita bahas satu persatu :

1. Investasi atau menabung emas memberikan imbal hasil yang tinggi. Benar jika kita merunut dari tahun 2000 maka imbal hasil pertahun emas bisa lebih dari 20 % per tahun, namun ini tidak dapat diterapkan per annual / tahun emas memberikan imbal hasil 20 %. Karena itu menabung emas disarankan untuk jangka panjang misalkan 5 – 10 tahun ke atas. Mengapa disarankan ke dalam emas? Karena produk seperti asuransi dengan sistem investasi di dalamnya tergolong ke dalam akad muamalah yang di dalamnya dilarang. Penjelasan silahkan dilihat di http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/hukum-asuransi.html . Jika kita menabung dalam bentuk rupiah di bank maka nilai rupiahnya akan semakin menurun dan adanya bunga di dalamnya telah kita sepakati akan keharamannya ( riba ). Maka menabung emas adalah solusi yang baik. Kita pegang sendiri atau disimpan di kami untuk menjadikan harta kita lebih produktif.

 

2. Anomali pergerakan emas dipengaruhi oleh trend naik. Ketika harga emas berkonsolidasi naik maka banyak yang melakukan aksi beli. Tidak ada yang salah dengan keputusan tersebut namun menurut saya tidak bijak, mengapa ? Karena biasanya pembelian secara emosional tanpa pertimbangan perencanaan keuangan yang baik akan mempengaruhi psikologis dalam memegang emas ke depannya. Bisa jadi ketika harga turun dan belum beringsut naik, kesabaran pemegang emas berkurang kemudian karena bosan menunggu akhirnya dilepas. Biasanya ini tipikal pemegang emas untuk jangka pendek atau pengikut trend. Saran saya membeli emas karena kita memang telah mencanangkan tabungan jangka panjang, jika tidak maka sebaiknya diurungkan karena bisa jadi seperti yang saya katakan kita akan bosan menunggu kapan kita akan melepas sehingga ketika telah memuncak kebosanan kita maka kita melepas emas walaupun saat itu harga sedang rendah rendahnya.

 

3. Budaya menyimpan emas kita mengikuti cara barat menilai emas, yakni emas sebagai alat investasi dibandingkan dengan cara timur menilai emas sebagai kebiasaaan, strata sosial, Kalau mengenal budaya tentunya faktor pemerintah sangat mempengaruhi kita. Cina dan India begitu kental dengan budaya membeli emasnya. Di India lebih cenderung kepada strata sosial sedangkan di Cina memang pemerintahnya mendukung rakyatnya memegang emas sebanyak banyaknya. Mengapa di Indonesia berkurang? Ini kaitan dengan menilai emas dari untung ruginya, banyak yang dari kita membeli emas itu menimbang untung rugi jangka pendek. Padahal nenek buyut kita membeli emas kapan saja dan terbukti bahwa dalam emas mampu mempertahankan nilainya seiring dengan waktu walaupun yang dibeli adalah emas perhiasan yang secara hitungan untung rugi emas batangan atau dinar lebih menguntungkan.

 

4. Emas dapat membuat kita kaya. Tidak ada yang salah dengan pendapat itu, tapi tidak bijak juga karena prinsipnya emtas adalah mempertahankan kekayaan kita, melindungi hasil jerih payah usaha kita dari yang namanya penurunan daya beli mata uang kita ( misalkan kita menyimpan dalam rupiah atau mata uang fiat lain ) . Beberapa cara mengungkit emas berakhir dengan tragis sebagai contoh kebun emas ( bukan saja rugi tapi akad gadai di dalamnya pun terdapat riba), perusahaan perusahaan yang menawarkan imbal hasil tinggi seperti GTIS, VGMC juga bubar, ada yg disebabkan optimisme harga emas selalu berada fase bullish, ada juga yang memang melakukan moneygame spt VGMC. Atau dengan cara trading komoditas dengan leveraging 500 x , tetap cara tersebut beresiko tinggi dan akad akad di dalamnya tidak syar’i.

 

5. Emas adalah komoditas. Sebenarnya emas adalah mata uang karena emas mempunyai nilai ( store of value) sama halnya kita memegang uang kertas ( fiat money). Jadi seharusnya mind set emas adalah real money adalah hal yang tidak salah dan dengan emas ini pun kita bisa membeli barang barang yang tentunya dengan sistem barter mengingat emas bukanlah legal tender di negara ini. Sejatinya emas ataupun dinar itu bisa digunakan dalam membangkitkan sistem ekonomi bukan hanya dikumpulkan dan menjadi tidak produktif. Ini kembali lagi kepada persepsi orang terhadap emas dan dukungan pemerintah terhadap sirkulasi emas dan penggunaan emas sebagai sistem pembayaran yang legal.

 

 

 

 

Receive Updates

No spam guarantee.

Related Post

Cara Memproduktifkan Dinar Anda Alhamdulillah sejak saya menulis tentang cara memproduktifkan Dinar yang sudah dimiliki oleh nasabah-nasabah kami pada artikel Langkah Berikutnya D...
Uang Ideal = Perfect Money Semua menginginkan memiliki uang yang ideal, ideal disini uang tersebut selain sebagai alat mengukur kekayaan juga terjaga nilainya sepanjang masa. ...
Buyback Dinar Selain GeraiDinar Bagi yang memiliki Dinar dari Wakala Induk Nusantara dengan cetakan logam mulia, baik yang pecahan ¼ – 2 Dinar dapat menjual kepada kami dengan rincia...
Hukum Membeli Emas Di Pegadaian Mimpi ngobrol dengan ustadz Abduh , diskusi tentang beli emas di pegadaian, yg bisa dimulai 0.01 gram tapi baru bs diambi emasnya kalau sdh 5 gram. ...