Persepsi Keliru Mengenai Dinar dan Dirham ( I ) Membantah Keharaman Uang Kertas

 

Saya sering berdialog dengan penggiat dinar-dirham yg menyatakan uang kertas adalah haram karena riba yg terkandung di dalamnya. Mereka mengatakan uang kertas riba karena dianalogikan sebagai kertas utang /piutang yg haram untuk diperjualbelikan atau mereka mengatakan bahwa uang kertas riba fadl karena uang kertas tidak ada nilai intrinsiknya. Jika kita membeli sepotong apel dengan uang kertas maka itu riba, krn tdk setara. Sebuah apel seharga misalkan 2000 ribu rupiah ditukar dengan uang kertas nominal 2000 rupiah tentu tdk adil karena sebenarnya uang kertas itu nilainya tidak setara dengan 2000 rupiah melainkan senilai selembar kertas yg dicetak .

 

Konspirasi kejahatan perbankan internasional seakan menjadi pembenaran akan keharaman uang kertas. Saya banyak membaca buku buku konspirasi internasional bagaimana uang kertas dimanipulasi sedemikian rupa sehingga uang kertas adalah akar dari segala kejahatan di dunia ( root of evil ). Selintas orang awam dan saya pada mulanya sepakat bahwa uang kertas itu sebaiknya dihukumi haram saja karena buruknya sejarah uang kertas. Namun Islam bukan agama yg hanya mengikuti semangat Islam hanya dengan ghiroh semu, Islam adalah agama yg diturunkan sempurna sesuai dengan perkembangan jaman. Islam bukan diukur dr logika semata. Islam berdasarkan wahyu yaitu dalil berdasarkan Al-Qur’an dan Al-Hadits. Islam mempertimbangkan kebaikan dan keburukan, walau kita melakukan sesuatu yg pada awalnya baik namun efek yg ditimbulkan ternyata jauh lebih besar, maka dalam Islam jangan lakukan hal tersebut.

 

Seandainya uang kertas dihukumi haram maka akan menimbulkan berbagai konsekuensi logis yaitu semua transaksi yang dilakukan oleh umat Islam adalah tidak sah dan tidak halal. Tp ini pun akan menjadi bumerang bagi mereka penggiat dinar dan dirham sampai saat ini. Landasan pengharaman uang kertas oleh mereka tidak dilandasi oleh dalil yg kuat, mencomot berbagai hadits sabagai pembenaran namun pada akhirnya menjadi bumerang bagi mereka.

 

Saya akan kemukakan inkosistensi mereka berdasarkan dialog dengan mereka :

  1. Saya pernah mengatakan bahwa dalam fiqh muamalah dikenal kaidah semua hukum yg berkaitan dengan muamalah adalah mubah/boleh, kecuali ada dalil pelarangannya. Ketika sy tanyakan manakah dalil pelarangan penggunaan mata uang selain dinar dan dirham , maka mereka tidak dapat menjawab , padahal di jaman Rasul telah ada dinar dan dirham serta pada jaman Rasul pun ada riba.

  2. Saya pernah menanyakan kepada mereka apakah perihal dinar dan dirham adalah perkara ushul atau furu ? Mereka menjawab ini adalah perkara ushul, ketika sy tanyakan mana dalilnya karena perkara ushul adalah perkara yg telah jelas penunjukkan dalilnya. Lagi lagi mereka diam, salah satu sikap gegabah dengan menjawab sesuatu yg tidak ada ilmunya.

  3. Mereka tidak mau menyebutkan penukaran rupiah ke dinar dan dirham mereka sebagai jual beli tp mereka kategorikan sebagai akad sharf. Sudah diketahui bahwa akad sharf adalah akad jual beli. Asumsi mereka akad jual beli adalah akad mengambil untung dan rugi, padahal dalam akad jual beli penukaran barang atau barter bisa dikatakan akad jual beli.

  4. Mereka tidak menerima penukaran perak atau barang bukan uang kertas ke dinar dan dirham. Padahal jika ada dua barang yg satu baik dan buruk maka yg diambil adalah yg baik, perak murni adalah lebih baik dibanding dengan uang kertas jika sejalan dengan pemikiran mereka, krn itu menerima perak murni, kurma, gandum adalah lebih baik daripada menerima uang kertas. Ini salah satu inkosistensi mereka.

  5. Mereka mengambil hadist mengenai Khalifah Umar yg hendak menjadikan kulit unta sebagai mata uang sebagai landasan diharamkannya uang kertas padahal ketika dibaca hadist tersebut pelarangan oleh sahabat dikarenakan ketakutan akan semakin langkanya unta yang akan diambil kulitnya sebagai mata uang. Sejatinya pelarangan itu ada jika sahabat mengetahui bahwa Rasul melarang penggunaan kulit unta sebagai mata uang dan Khalifah Umar , kepada beliau belum sampai hukum tersebut. Sedang yg terjadi Rasul tidak melarang.

 

Hendaknya dipahami bahwa uang kertas saat ini tidaklah riba namun yang terjadi saat ini adalah riba pada sistemnya. Mengapa ?

 

  1. Di jaman Rasul digunakan adalah dinar dan dirham dan pada saat itu pun ada riba, tp tdk ada hadist pun yg menyatakan bahwa selain dinar dan dirham adalah riba.

  2. Dinar dan dirham pun nilainya berubah walau memang pada saat ini dinar dan dirham jika dinilai dengan seekor kambing nilainya tetap sama. Sejarah membuktikan bahwa ada suatu saat 5 dinar hanya cukup membeli seekor anjing ketika terjadi bencana kekeringan . Sejarah menjelaskan bahwa dinar dan dirham pun dipengaruhi oleh kondisi perekonomian spt suplai barang dan jasa, adanya bencana, adanya penyelundupan dan pemalsuan.

  3. Jika dinar dan dirham digunakan sebagai mata uang namun sistemnya masih sistem ribawi maka itu tdk akan menyelesaikan masalah umat.

  4. Sejarah menyebutkan presiden Amerika Abraham Lincoln berhasil membuat sistem mata uang dengan mata uang kertas yg dikenal dengan greenbacks tanpa bunga membawa Lincoln menjadi satu satunya presiden Amerika tanpa utang. Kerusakan di muka bumi ini karena riba pada sistem keuangan global, keserakahan segelintir umat, dan akad akad jual beli yg zalim.

 

 

Jadi bagaimana sikap kita terhadap dinar dan dirham :

 

  1. Dinar dan dirham adalah sarana bukan tujuan, artinya gunakanlah dinar dan dirham sebagaimana mestinya jika ingin digunakan sebagai investasi maka investasikan dengan bijak, jangan gunakan sebagai alat spekulasi, jika digunakan sebagai proteksi nilai maka gunakanlah sebagai proteksi nilai , jangan lupa keluarkan zakatnya bila sampai nishab, jika digunakan sebagai alat tukar/ barter maka gunakanlah dengan mengikuti akad akad yg disyariatkan.

  2. Dinar dan dirham dapat digunakan sebagai mata uang yang adil selama sistemnya pun adil tanpa riba, jika dibandingkan dengan uang kertas maka uang dinar lebih baik karena keunikan yg dimiliki pada emas dalam dinar yg sulit untuk dimanipulasi, apalagi kepemilikan emas dunia 80 % dimiliki oleh pengguna retail, selebihnya industri dan bank sentral.

  3. Dinar dan dirham digunakan untuk perencanaan keuangan masa depan, dibandingkan dengan investasi fiat money based, dengan dinar dan dirham perencanaan keuangan anda lebih terproteksi.

  4. Dinar dan dirham digunakan sebagai pengganti tabungan atau investasi fiat money based jangka panjang, dan jangan sampai dinar dirham digunakan untuk kegiatan produktif karena saat ini kegiatan produktif seperti jual beli perdagangan menggunakan uang kertas. Tidak terbayang bila anda memiliki uang yg seharusnya ditujukan untuk kegiatan jual beli tp anda putarkan ke dinar dan dirham kecuali anda melakukan jual beli dinar dan dirham.

  5. Bijak dalam memahami dinar dan dirham, dinar bukan solusi membuat anda menjadi lebih kaya, karena sebaiknya investasi adalah investasi di sektor ril, krn memang ekonomi Islam tumbuh melalui sektor ril , di samping itu akan semakin banyaknya keberkahan bila kita berdagang atau berwirausaha.

 

 

Receive Updates

No spam guarantee.

Related Post

Apakah Jual Beli Dinar dan Dirham itu Haram? Normal 0 false false false IN X-NONE X-NONE MicrosoftInternetExp...
Tes Keaslian Dinar Yang Mudah dan Murah       Awal tahun 2008 saya pernah mencoba mengembangkan gelas ukur sederhana untuk tes keaslian Dinar menggunakan prinsip hukum Archimedes...
Dinar Emas : 22 Karat atau 24 Karat- Kah ? Ada pelajaran yang membekas di benak saya dari guru saya dibidang ekonomi syariah Prof. Didin Hafiduddin dalam menyikapi berbagai hal yang kita temui ...
Yang Tidak Diajarkan Kebanyakan Penggiat DinarR... Pernahkah kita mendengar perintah berilmu sebelum ke pasar? Umar bin Khattab Radhiallahu'anhu berkata : لَا يَتَّجِرْ فِي سُوقِنَا إلَّا مَنْ فَقِه...