Pertanyaan Tentang Gadai Emas

Pertanyaan :

Di bank syariah yang ada saat ini ada transaksi gadai emas atau disebut Rahn. Nasabah yang memerlukan talangan dana segar dapat menggadaikan emas yang dimiliki ke bank syariah. Bank syariah akan memunggut jasa (ujroh-istilah bank syariah) sebesar 1,5 % per bulan dari dana yang nasabah terima, dan pada akhir periode yang telah ditentukan, nasabah harus mengembalikan dana tersebut dan emas yang digadaikan dapat diambil. Apakah transaksi jenis ini ada unsur ribanya ? Bagaimanan model pegadaian yang sesuai syariat Islam?

Jawaban Ustadz Muhammad Arifin Badri :

Ini adalah salah satu bentuk akal-akalan perbankan yang ada. Akad Rahn adalah akad keturunan dari akad piutang, sehingga hukum hutang piutang harus tetap diindahkan padanya, dimana kreditur tidak dibenarkan untuk mendapatkan keuntungan sedikit pun dari Rahn tersebut. Untuk menjaga/menyimpan Rahn yang berupa emas atau surat berharga, tidak membutuhkan biaya sehingga tidak dibenarkan memunggut upah penyimapanan. Rahn yang dibolehkan untuk dipunggut ujrah/perawatannya hanyalah rahn yang berupa binatang, karena binatang ternak membutuhkan perawatan makanan dan minuman lainnya. Maka pada keadaaan itu saja. Kreditur dibenarkan untuk memunggut ganti rugi sebesar biaya makanan dan minuman yang diberikan kepada binatang tersebut.

Yang demikian itu dikarenakan akad piutang dalam syariat islam digolongkan ke dalam uqud ar rifqu . Yaitu akad yang bertujuan untuk memberikan penghargaan, pertolongan, dan jasa baik atau uluran tangan kepada orang lain. Sehingga biasanya yang menjalin akad macam ini adalah orang yang sedang membutuhkan bantuan atau sedang terjepit oleh suatu masalah sehingga ia membutuhkan uluran tangan saudaranya. Oleh karena itu, orang yang menjalankan akad ini tidak rela bila ada orang yang menggunakan kesempatan dalam kesempitan ini, yaitu dengan mengeruk keuntungan dari bantuan yang ia berikan.

Contoh nyata dari akad macam ini ialah : akad hutang-piutang, penitipan, peminjaman, shodaqoh, hadiah, pernikahan dan lain lain.

(yang dimaksud dengan penitipan disini adalah penitipan yang tanpa dipunggut upah. Adapun penitipan yang seri terjadi di masyarakat, misalnya penitipan motor, mobil, dan lain lain yang dipunggut biaya penitipan, maka akad ini sebenarnya bukan akad penitipan, tetapi akad jual beli jasa, yang diistilahkan dalam ilmu fiqih dengan akad ijarah .

Oleh karena tujuan akad macam ini seperti disebutkan di atas, maka syariat islam tidak dibenarkan bagi siapapun untuk menjadikan kesusahan orang semacam ini sebagai ladang untuk mengeruk keuntungan dari lawan akadnya.

Allah memusnahkan riba dan menyuburkan sedekah. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang tetap dalam kekafiran, dan selalu berbuat dosa” Al- Baqarah 276

Pada ayat ini Allah Ta’ala mengancam para pelaku riba dan kemudian dilanjutkan dengan menyebutkan ganjaran akan diterima oleh orang yang bersedekah. Ini mengisyaratkan kepada kita bahwa praktek riba adalah lawan dari shodaqoh. Dan isyarat ini juga dapat kita pahami dengan jelas pada ayat-ayat selanjutnya :

Hai orang orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan tinggalkan sisa riba ( yang belum dipunggut) jika kamu orang-orang yang beriman. Maka jika kamu tidak mengerjakan ( meninggalkan sisa riba) maka ketahuilah bahwa Allah dan Rasul-Nya akan memerangimu. Dan jika kamu bertaubat ( dari pengambilan riba), maka bagimu pokok hartamu, maka kamu tidak menganiyaya dan tidak pula dianiyaya. Dan jika ( orang berhutang itu) dalam kesukaran, maka berilah tangguh sampai dia berkelapangan. Dan menyedekahkan ( sebagian atau semua utang) itu, lebih baik bagimu. Jika kamu mengetahui” Al Baqarah 278-280

Berdasarkan ini semua, ulama ahli Fiqh menggariskan suatu kaidah yang amat masyur :

Setiap piutang yang mendatangkan keuntungan , maka itu adalah riba

 

Pendek kata sikap perbankan syariah yang ada dengan memunggut upah penyimpanan ( ujrah) tidaklah dibenarkan, karena itu hanyalah kilah mereka untuk dapat memunggut keuntungan dari piutang yang diberikan.

Catatan Kaki:

Pegadaian Emas dapat dikritisi dari beberapa segi yaitu :

  1. Menyalahi kaidah bahwa setiap piutang yang mendatangkan keuntungan, maka itu adalah riba. Karena akad Rahn adalah akad utang piutang.

  2. Menyatukan dua akad dalam satu transaksi ( akad utang piutang dan akad jual beli)

Receive Updates

No spam guarantee.

Related Post

DOA BAGI YANG TERLILIT UTANG Ada dua doa yang bisa membantu agar terlepas dari sulitnya utang. Dari BC  Ust Abduh Tuasikal , semoga bermanfaat 🙂 اللَّهُمَّ إِنِّى أَعُو...
Uang Ideal = Perfect Money Semua menginginkan memiliki uang yang ideal, ideal disini uang tersebut selain sebagai alat mengukur kekayaan juga terjaga nilainya sepanjang masa. ...
Panduan Zakat Emas, Perak dan Mata Uang Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad, keluarga dan sahabatnya.Alhamdulillah, sekarang kami punya ke...
Seputar Pegadaian ( Ar-Rahn) PendahuluanAlhamdulillah, salawat dan salam semoga dilimpahkan kepada Nabi Muhammad, keluarga, dan sahabatnya.Akad pegadaian ialah suatu akad yang ber...