GERAI DINAR BANDUNG

Investasi dan Proteksi Nilai

M-Dinar

Grafik Dinar

Photobucket
twitter_icon

Calculator

Polling

Apa tujuan anda menggunakan dinar dan dirham
 
mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterToday162
mod_vvisit_counterYesterday244
mod_vvisit_counterThis week1542
mod_vvisit_counterLast week1636
mod_vvisit_counterThis month894
mod_vvisit_counterLast month7493
mod_vvisit_counterAll36288

Online (20 minutes ago): 9
Your IP: 38.107.191.96
,
Now: 2010-09-04 17:29

Who's Online

We have 6 guests online

Special Offers

Photobucket

Live Chat

Welcome to the Frontpage
Selamat Datang di GERAI DINAR BANDUNG PDF Print E-mail


Kami melayani pembelian dan penjualan koin emas dinar dan koin perak dirham  untuk wilayah bandung khususnya  .Kami pun menyediakan berbagai artikel yang berkaitan dengan perkembangan dinar dan dirham, Informasi pengguna m-dinar, informasi penawaran dinar less 1 persen dan less 2 persen. Kami tidak melakukan jual beli dinar berupa mata uang kertas.


create animated gif
 

 

 
 
INFORMASI Bagi Pengguna M-Dinar PDF Print E-mail

Bagi pengguna m-dinar yang ingin memiliki buku tabungan, silahkan hubungi kami, bila sdh terkumpul semua, kami akan mengajukan permohonan pengiriman secara kolektif dan nanti dapat diambil di alamat kami atau dikirim ke alamat ibu/bpk bila berada di luar kota bandung.

Permohonan melalui email berisi identitas sesuai KTP/SIM, USER ID , dan No rekening M-Dinar, kirimkan ke email atqeya[at]yahoo.co.id.

UPDATE INFORMASI

Buku tabungan M-Dinar telah ada di tempat kami, bagi ibu/ bpk yang  ingin mengambil buku tabungan silahkan diambil di tempat kami. Ke depannya Insya Allah untuk cetak buku tabungan ke pusat akan kami kolektifkan kembali dalam jangka waktu setiap tiga atau empat bulan dan semuanya tidak dipunggut biaya apapun..

 
Collective Intelligence Untuk Membangun Pasar ... PDF Print E-mail

Pasar memiliki kedudukan strategis dalam membangun masyarakat Islam yang utuh; begitu strategisnya masalah ini sehingga Rasulullah SAW sendiri mencontohkan membangun pasar bagi kaum muslimin di Madinah sejak masa-masa awal Hijrah. Kelemahan dalam penguasaan pasar ini pula yang membuat umat Islam kini meskipun besar dari segi jumlah namun tidak memiliki kekuatan strategis dalam perdagangan. Di mall, di pasar modern maupun tradisional , di food court dlsb, nuansa Islami hanya muncul di bulan Romadhan khususnya menjelang lebaran.

Pasar tidak muncul dengan sendirinya, harus ada yang memulai - lebih banyak yang mulai akan lebih berpeluang terbentuk secara lebih cepat. Oleh karena itu saya ingin mengajak para pembaca sekalian untuk secara kolektif memikirkan dan langsung bertindak untuk mulai membangun embrio pasar bagi kaum muslimin ini. Awalnya tidak harus besar dan tidak harus langsung sempurna – setidaknya kita mulai dengan serius menyiapkan instrumen pokok dalam membangun kemakmuran umat ini.

Untuk pekerjaan besar ini kita bisa belajar dari sekelompok semut yang sedang mengangkat makanan berupa binatang atau lainnya yang beratnya puluhan kali berat semut itu sendiri. Bagaimana semut-semut ini melaksanakan pekerjaan besar tersebut ?, siapa yang punya gagasan terus kemudian mengajak yang lain ?, dengan bahasa apa mereka berkomunikasi ?, bagaimana mereka menyepakati arah kemana makanan dibawa ? dst.dst. Mereka dapat melakukan ini karena hewan terkecil sekalipun , bahkan sampai sekelas bakteri-pun oleh Allah diberi kemampuan untuk ‘berpikir’ maupun ‘bertindak’ secara bersama-sama dengan kelompoknya. Ilmu manusia modern kemudian menyebut hal ini sebagai Collective Intelligence (CI).

Bila dengan CI-nya, semut dan bakteri-bakteri yang kecil tidak kasat mata-pun dapat membunuh manusia yang besar ini – maka dapat kita bayangkan pekerjaan besar apa yang bisa dilakukan oleh sekelompok manusia-manusia yang dengan ilmu pengetahuan dan teknologi-nya yang pasti memiliki CI yang sangat perkasa ketimbang CI-nya bakteri, semut dlsb ?.

Karena potensi pemanfaatan CI yang sangat besar tersebut, maka berbagai pihak kini rame-rame berusaha mengelola CI untuk berbagai tujuan. Linux misalnya menggunakan CI untuk menghasilkan software-software yang gratis dan sangat bermanfaat. Wikipedia untuk menghasilkan encyclopedia yang juga gratis – yang encyclopedia semacam ini sebelumnya hanya dibeli oleh kalangan teknokrat yang kaya.

Secara tidak langsung dalam penerapannya yang masih terbatas, Pesantren Wirausaha Daarul Muttaqqiin (PWDM) juga menggunakan CI ini untuk mengembangkan berbagai project, mulai dari project Kambing Ettawa, Jamur, Composites, Planet Beku, Masjid “Gedebog”, Sate Balibul, Kambing Hot Rock dan berbagai project lain yang insyallah semakin meaningful kedepan.

Bagaimana kami mengelola CI-ini ?  ya antara lain melalui tulisan-tulisan yang kami lontarkan di web ini kemudian menuai masukan; juga melalui pertemuan-pertemuan fisik yang tidak hanya melibatkan para santri wirausaha tetapi juga pihak-pihak lain yang kami pandang bisa melengkai CI yang dibutuhkan. Pertemuan –pertemuan ini bisa berupa vision sharing – bila kami baru melontarkan ide , crash test – bila kami telah siap dengan suatu produk ataupun acara kick-off bila kami mulai sesuatu.

Nah sekarang kita juga akan menggunakan CI untuk membangun pasar kita tersebut diatas. Rencana membangun pasar ini, sengaja saya lontarkan di tulisan ini karena kita ingin mengumpulkan dan menyaring CI dari puluhan ribu pembaca setia GeraiDinar.Com – yang sangat bisa jadi sebagiannya memiliki minat yang sama. Berikut adalah deskripsi ringkas dari project yang kita beri nama  Medina Market  ini :

Kita tahu bahwa  Jakarta kini sudah semakin padat, kota-kota satelit di seputar Jakarta semakin menjamur yang kemudian dikenal dengan Jabodetabek (Jakarta, Bogor, depok , Tangerang, Bekasi). Di salah satu wilayah ini, masih di mulut pintu tol-nya – ada sebuah mall yang memiliki lokasi ideal untuk target Medina Market yang pertama. Mall ini berada di gerbang pusat kegiatan berbagai perumahan yang kini bermunculan di daerah tersebut.

Ada sederet foot court yang masih kosong di mall ini – menghadap keluar ke alam bebas sehingga mempunyai pemandangan yang indah. Lebih indah lagi bila dikelola dengan berbagai aktifitas outdoors yang sekarang juga semakin marak. Inilah calon target pasar pertama kita, yang dari sekian banyak lokasi nampaknya paling cocok untuk mulai. Lokasinya juga kurang lebih di antara dua masjid besar bertaraf internasional yang dikelola ustad-ustad kondang negeri ini, jadi ideal sekali untuk memulai membangun masyarakat muslim yang utuh.

Peluangnya adalah bila seluruh counter yang menghadap ke alam bebas tersebut bersama-sama kita kelola, maka nuansanya bisa kita warnai.  Dengan banyaknya pedagang sekaligus (lokasi ini hanya untuk makanan atau food court), maka banyak pilihan yang langsung hadir di lokasi ini – sehingga juga akan segera menjadi daya tarik bagi masyarkat untuk mengunjunginya.

Pendekatan Collective Intelligence Untuk Medina Market

Pendekatan Collective Intelligence Untuk Medina Market

 

Karena ‘mengelola’ pasar secara utuh ini jelas belum menjadi kompetensi kita saat ini, maka CI tersebut diataslah yang kami butuhkan.

Coordination akan kami gunakan untuk mengumpulkan para pemodal yang tertarik di roject ini . Agar tidak terlalu berisiko bagi para pemodal tersebut, maka lokasi ini cukup kita sewa dahulu sehingga tahun pertama hanya butuh dana mulai dari sekitar 15 Dinar untuk 1 counter. Untuk kategori pemodal ini, kami hanya butuh sekitar 20 orang.

Read more...
 
Investasi di Era Competitive Devaluation : Jangan Mau Jadi Pelanduk... PDF Print E-mail
Written by atqeya   

Dahulu di waktu Sekolah Dasar kita belajar pepatah yang kurang lebih berbunyi “gajah bertarung dengan gajah, pelanduk mati di tengah”. Apes bener jadi pelanduk, dia tidak tahu menahu tentang urusan apa gerangan yang  membuat para gajah tersebut bertarung – tetapi dia berada di tempat yang salah pada waktu yang salah pula – maka matilah dia karena pertarungan ini. Sebuah artikel di The Wall Street Journal kemarin yang diberi judul Getting Ready for A Dollar Collapse ? bercerita tentang pertarungan gajah US Dollar melawan  gajah-gajah Yuan, Euro, Yen dan berbagai mata uang kuat lainnya – yang membuat mati para pelanduk, yaitu para penabung atau pemegang uang kertas dunia.

Pertarungan yang disebut competitive devaluation ini bermula dari krisis finansial global dalam dua tahun terakhir. Biang keladinya adalah Amerika, dimana  2/3 isi balance sheet dari Federal Reserve-nya berasal dari surat berharga yang dikeluarkan oleh government sponsored enterprises – semacam BUMN kitalah – yaitu Fannie Mae dan Freddy Mac yang di bailed out pemerintahnya dua tahun silam. Ini situasi ‘jeruk makan jeruk’ , yang hakekatnya pemerintah negeri ini sedang mencetak uang baru dari awang-awang.

Akibat perbuatannya ini – karena uang baru terus dicetak dari awang-awang - maka ada proses penurunan daya beli US$ secara terus menerus. Hal ini nampak jelas pada perkembangan harga emas dunia dalam US$, bila rata-rata bulanan bulan Agustus 2008 harga emas berada pada angka US$ 839.02 kini naik sekitar 44 % pada bulan Agustus 2010 ini menjadi rata-rata US$ 1,209.66 dengan trend masih keatas.  Mungkin saja akan terbatas efeknya apabila penurunan daya beli ini  hanya terjadi di AS, namun ternyata efek penurunan daya beli ini tidak akan terhenti di AS. Negara-negara lain yang nilai perdagangannya sangat tinggi dengan AS, seperti China, Uni Eropa, Jepang dlsb. akan kehilangan daya saingnya bila uang mereka terlalu perkasa terhadap  US Dollars.

Akibatnya otoritas moneter negara-negara tersebut akan menempuh caranya sendiri-sendiri untuk menurunkan daya beli uangnya dengan perbagai program quantitative easing atau cara-cara ‘creative’ lainnya dalam mencetak uang dari awang-awang. Negara-negara lain yang tadinya tidak terimbas secara langsung-pun kemudian akan terpaksa mengikuti gerakan global dalam penurunan daya beli uang kertas ini, karena bila tidak maka mereka akan semakin tidak bisa bersaing dengan produk ekspor-nya.

Wal hasil, seluruh dunia kini seperti berpacu dalam menurunkan daya beli uang kertasnya – atau berarti juga berpacu dalam inflasi. Lantas siapa yang jadi pelanduk-nya ?, masyarakat secara umum yang tidak tahu menahu menjadi korban dalam bentuk harga barang-barang yang terus melambung, secara khusus para penabung yang meskipun angka uang yang ditabungnya bertambah – daya beli uang yang ditabung tersebut semakin lama semakin turun karena hasil tabungannya kalah berpacu dengan inflasi.

Terus bagaimana seharusnya masyarakat menyikapi hal ini ?, yang terbaik adalah apabila terjadi perubahan paradigma cara berfikir dari kegemaran menabung menjadi kegemaran ber-investasi di sektor riil. Bagi Anda yang masih mempunyai kampung, menginvestasikan uang Anda di kampung dalam bentuk lahan-lahan yang diproduktifkan dengan berbagai tanaman sengon, jabon dan bahkan pisang dlsb. insyallah akan lebih memberi manfaat bagi Anda dan masyarakat sekitar Anda. Bagi yang sudah tidak memiliki kampung, masih banyak terbuka lahan di Nusantara ini untuk Anda produktifkan baik untuk pertanian, perikanan, peternakan maupun kegiatan produktif lainnya.

Mengapa sektor riil ini lebih baik dari pada memegang uang kertas atau tabungan di era competitive devaluation ini ?. Sederhana alasannya, benda riil apapun yang Anda pegang dengan sendirinya akan melonjak nilainya – ketika dunia rame-rame menurunkan daya beli mata uangnya.

Ketika kita tidak menjadi pelanduk, pertarungan para gajah tidak akan membuat kita mati – maka jangan mau jadi pelanduk !. Wa Allahu A’lam.

Muhaimin Iqbal (geraidinar.com)

 
 
Penggunaan Emas/Dinar Dalam Pengelolaan Risiko PDF Print E-mail

Waktu saya belajar tentang manajemen risiko dahulu, hal yang mendasar yang kita pelajari antara lain adalah bagaimana memilah-milah risiko dari yang bisa terjadi dengan yang pasti terjadi.  Untuk risiko yang masuk kategori bisa terjadi (kecelakaan misalnya), kemudian dipilah berdasarkan severity dan frequency-nya untuk kemudian dihindari, diminimisasi atau dihadapi. Untuk risiko yang pasti terjadi (kematian misalnya) – tidak ada pilihan lain kecuali harus di hadapi.

Naik turunnya harga emas dunia adalah juga merupakan suatu risiko; tetapi masuk kategori yang mana ?. Tergantung dari seberapa jauh kita memandangnya, untuk jangka pendek dia adalah risiko yang bisa terjadi (bisa naik atu turun), tetapi untuk jangka panjang dia lebih mendekati risiko yang pasti terjadi – uang fiat hampir pasti turun daya belinya terhadap emas. Sampai saat ini belum ada satupun uang kertas dunia yang mampu bertahan daya belinya terhadap emas dalam rentang waktu yang panjang.

Ambil contoh kasus harga emas tahun ini misalnya;  bila dilihat dari statistik seharusnya sejak akhir Maret lalu sampai awal September nanti harga emas mestinya berada pada musim rendah. Namun untuk tahun ini nampaknya pola pergerakan harga musiman ini tidak berlaku, bahkan bulan Juni lalu harga emas dunia sempat berada di kisaran angka US$ 1,266/Oz.  Per pagi ini harga emas dunia berada pada kisaran angka US$ 1,225/Oz  - mengalami penurunan US$ 42/Oz atau turun 3% dari harga tertingginya 2 bulan lalu, namun angka ini masih US$ 270 lebih tinggi atau mengalami kenaikan 28.33% dari harga emas Dunia yang pada bulan yang sama tahun lalu yang berada di kisaran US$ 955/Oz.

Semakin panjang kita menarik rentang waktu yang kita lihat, akan semakin jelas penurunan daya beli uang kertas terhadap emas ini. Anda bisa perhatikan misalnya pada grafik 10 tahunan yang ada pada situs ini – trend naiknya dalam rentang waktu yang panjang menjadi  amat sangat jelas.

Setelah apa yang terjadi dengan Indonesia dan negara-negara Asia Tenggara 1997/1998, Amerika tahun 2008 dan Eropa tahun 2010 ini, kita semua baik individu , perusahaan maupun negara nampaknya kini memang perlu mengkaji kembali strategi pengendalian risiko yang dihadapinya. Satu aspek risiko yang begitu nyata mendekati kepastian, yaitu risiko penurunan daya beli uang kita – sangat bisa jadi masih luput dari konsideran kita dalam konteks implementasi pengendalian risiko.

Akan tidak ada gunanya misalnya suatu usaha mencapai sukses luar biasa dan menghasilkan keuntungan yang tinggi bagi para investornya – bila keuntungan tersebut dihargai dengan suatu nilai uang kertas yang nilainya sendiri mengalami peluruhan dengan cepat. Demikian pula dengan hasil jerih payah kita; tidak ada gunanya kita tabung bila nilai daya belinya tidak bisa kita pertahankan.

Karena risiko penurunan nilai (baca : inflasi) uang kertas adalah suatu keniscayaan atau mendekati kategori risiko jenis kedua – yaitu risiko yang pasti terjadi, maka mau tidak mau kudu kita hadapi. Dengan apa kita menghadapinya ?, ya antara lain menggunakan emas atau Dinar ini. Seandainya toh karena satu dan lain hal emas atau Dinar belum bisa difungsikan sebagai alat tukar atau medium of exchange; penggunaan emas atau Dinar sebagai unit of account dan store of value akan dapat sangat efektif dalam pengelolaan risiko penurunan daya beli uang kertas atau inflasi. Wa Allahu A’lam

 Muhaimin Iqbal ( geraidinar.com)

 
<< Start < Prev 1 2 3 4 5 6 7 Next > End >>

Page 1 of 7
 
Joomla 1.5 Templates by Joomlashack